Rabu, 10 Juni 2015

PSSI vs MENPORA

Kemarin, tepatnya 30 Mei 2015 federasi tertinggi sepak bola Indonesia resmi mendapatkan pukulan telak imbas dari konflik berkepanjangan dengan Kementerian Pemuda Olahraga. Ya. Indonesia resmi mendapatkan sanksi dari induk sepak bola dunia FIFA melalui rapat “exco” yang dihelat bertepatan dengan kongres FIFA di Zurich, Swiss. Sebuah anekdot yang lucu memang jika ditelaah. Dua institusi (PSSI & Kemenpora.red) yang seharusnya bersinergi mencari solusi, kini malah saling benci. Beragam respon tentunya bermunculan dari berbagai lapisan masyarakat menanggapi kenyataan yang harus diterima oleh persepakbolaan negeri ini. Pro kontra tak pelak berhamburan, baik di beranda Facebook, time line Twitter sampai meja warung kopi, semua berkomentar, tak terkecuali aku. Aku memang bukan praktisi sepak bola, bukan direktur teknis bukan pula pengurus federasi. Aku hanyalah penikmat,tapi aku punya kegusaran yang selalu datang mengusik, saat kondisi sepak bola nasional sedang diulik. Menarik memang mengamati beragam respon dan komentar yang bermunculan dari masyarakat mengenai masalah sepak bola ini, khususnya yang paling menarik perhatianku adalah komentar-komentar yang justru setuju dan meng-amini jika sepak bola Indonesia harus dibekukan. Dan pada kesempatan ini, sebagai penikmat sepak bola nasional aku akan mencoba merespon balik komentar-komentar tersebut. #satu. Ada yang bilang “baguslah PSSI disanksi, biar beres masalah sepak bola Indonesia” Oke, kita akui bersama sepak bola Indonesia jika dibandingan dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan maupun Thailand agak tertinggal. Dan tidak dipungkiri juga, PSSI punya banyak masalah, PSSI harus bertanggung jawab mengenai hal ini. Tapi apakah pembekuan adalah langkah yang tepat ? menurutku tidak sepenuhnya tepat. Menurutku pembenahan federasi tidaklah tepat jika dilakukan dengan langkah pemberedelan. Ibarat sehektar sawah yang diserang hama tikus atau wereng, untuk membasmi hama tersebut apakah kita harus membakar sehektar sawah tersebut ??? pembenahan PSSI butuh sinergi antar institusi, tanpa embel-embel politisasi. #dua Ada yang bilang “ah bubarkan saja, toh selama ini kering prestasi” Betul. Betul sekali, sepak bola Indonesia memang kering akan prestasi. Jangankan prestasi tingkat dunia, untuk mengais gelar tingkat regional Asia Tenggara pun berat. Namun apakah alas an in tepat sebagai pembenaran PSSI harus dikebiri ??? anda tahu Inggris ??? negara yang katanya merupakan tempat pertama kalinya sepak bola dimainkan. Negara Eropa yang punya sederet klub lokal serta pemain-pemain berkelas dunia dari tahun ke tahun, Negara yang punya liga professional yang digandrungi seantero jagad. Namun tengoklah tim nasionalnya, prestasi The Three Lions (Timnas Inggris.red) di kancah antar negara juga nihil akan prestasi baik ditingkat regional Eropa maupun Dunia, apakah dengan nihilnya prestasi timnas Inggris lantas FA (PSSI-nya Inggris.red) dibubarkan ??? #tiga Ada yang bilang “So what ?? gak ngaruh, males nonton timnas, mending nonton klub favorit” Skeptis ! memang permainan timnas kita tak secantik tiki-takanya Barcelona, tak seaktraktif permainan sederet bintang-bintang Real Madrid. Tapi inilah tim nasional Indonesia men, Negara lu sendiri, mau gak mau inilah sepak bolanya, beginilah permainannya. Sebagai orang Indonesia, yang menghirup oksigen dari rimbunnya hutan Indonesia, bagiku menyaksikan Timnas Indonesia berlaga dilapangan hijau dengan mengumandangkan lagu kebangsaan selalu memberikan “pride” dan “taste” yang berbeda jika dibandingkan dengan menonton klub favorit. #empat Ada yang bilang “ yaa ga papa, kita harus melakukan pembenahan total terhadap PSSI agar prestasi lebih bagus, 10 tahun terakhir prestasi kita menurun. Ini harus jadi momentum” Siap pak, memang kita harus berbenah. Pembenahan memang menjadi semangat kita semua pak ntuk sepak bola Indonesia yang lebih baik Namun berbenah tidak harus menghentikan denyut nadi sepak bola pak. 10 tahun ini kita juga gak kering-kering amat akan prestasi pak. Bicara itu pakai data pak jangan asal mangap. Sepak bola tak semudah mengerinyitkan serta membentuk sejumlah lipatan dijidat bapak. Ya begitulah kira-kira beberapa komentar yang muncul dari berbegai lapisan masyarakat, baik dari masyarakat awam, anak-anak gaul sampai bapak-bapak ceking. Intinya sepak bola bukan hanya masalah antara FIFA, PSSI dan Menpora, namun sepak bola juga berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Berapa ribu pemain, staff, official sampai penjual asongan yang menggantungkan hidupnya pada sepak bola dan hari ini kegusaran mereka semakin menjadi buah perseteruan anta elit. Dan aku hanya mampu menulis untuk bertutur mengeluarkan segala gusar yang berhamburan.

Senin, 22 September 2014

Diagram Profil Hutan

TEKNIK PEMBUATAN DIAGRAM PROFIL ARSITEKTUR POHON PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagian besar hutan alam di Indonesia termasuk dalam hutan tropika basah. Banyak para ahli yang mendiskripsi hutan tropika basah sebagai ekosistem spesifik, yang hanya dapat berdiri mantap dengan keterkaitan antara komponen penyusunnya sebagai kesatuan yang utuh. Keterkaitan antara komponen penyusun ini memungkinkan bentuk struktur hutan tertentu yang dapat memberikan fungsi tertentu pula seperti stabilitas ekonomi, produktivitas biologis yang tinggi, siklus hidrologis yang memadai dan lain-lain. Secara de facto tipe hutan ini memiliki kesuburan tanah yang sangat rendah, tanah tersusun oleh partikel lempung yang bermuatan negatif rendah seperti kaolinite dan illite. Kondisi tanah asam ini memungkinkan besi dan almunium menjadi aktif di samping kadar silikanya memang cukup tinggi, sehingga melengkapi keunikan hutan ini. Namun dengan pengembangan struktur yang mantap terbentuklah salah satu fungsi yang menjadi andalan utamanya yaitu ”siklus hara tertutup” (closed nutrient cycling) dan keterkaitan komponen tersebut, sehingga mampu mengatasi berbagai kendala/keunikan tipe hutan ini (Kuswanda dan Mukhtar, 2008). Di dalam kanopi iklim mikro berbeda dengan keadaan sekitarnya; cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat tinggi, dan temperatur lebih rendah. Pohon-pohon kecil berkembang dalam naungan pohon yang lebih besar, di dalam iklim mikro inilah terjadi pertumbuhan. Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan iklim mikro dari kanopi berkembang juga tumbuhan yang lain seperti pemanjat, epifit, tumbuhan pencekik, parasit dan saprofit. Pohon-pohon dan banyak tumbuhan lain berakar menyerap unsur hara dan air pada tanah. Daun-daun yang gugur, ranting, cabang, dan bagian lain yang tersedia menjadi makanan untuk sejumlah inang hewan invertebrata, seperti rayap juga untuk jamur dan bakteri. Unsur hara dikembalikan ke tanah lewat pembusukan dari bagian yang gugur dan dengan pencucian daun-daun oleh air hujan. Ini merupakan ciri hutan hujan tropis persediaan unsur hara total sebagian besar terdapat dalam tumbuhan; secara relatif kecil disimpan dalam tanah (Withmore, 1975). Stratifikasi kanopi merupakan salah satu konsep tertua dalam ekologi hutan tropis. Konsep ini telah dikembangkan sejak permulaan abad ke-19, namun masih menjadi perdebatan. Beberapa peneliti menyatakan adanya strata pada kanopi hutan, namun peneliti lain tidak menemukannya. Penyebab utama kerancuan ini adalah subyektivitas definisi dan metode yang digunakan. Istilah stratifikasi digunakan untuk tiga perbedaan yang saling terkait, yaitu: stratifikasi vertikal biomassa, stratifikasi vertikal kanopi, dan stratifikasi vertikal spesies. Stratifikasi boleh jadi ada berdasarkan salah satu definisi, tetapi tidak ada berdasarkan definisi lainnya. Misalnya, biomassa dapat saja terstratifikasi, tetapi kanopi tidak dapat ditentukan stratifikasinya, atau kanopi spesies yang sama terletak pada strata yang berbeda (Baker dan Wilson, 2000). Konsep stratifikasi tetap merupakan alat yang sangat berguna untuk mengkaji distribusi vertikal tumbuhan dan hewan. Metode tertua dan paling banyak digunakan untuk mengkaji stratifikasi/arsitektur kanopi adalah diagram profil hutan secara vertikal dan horizontal. Teknik ini pertama kali diterapkan oleh Watt (1924) pada hutan temperate, Davis dan Richards (1933) adalah orang pertama yang menerapkannya pada hutan tropis. TINJAUAN PUSTAKA Struktur vegetasi tumbuhan, seperti tinggi, biomassa, serta heterogenitas vertikal dan horizontal, merupakan faktor penting yang mempengaruhi perpindahan aliran materi dan energi, serta keanekaragaman ekosistem. Kanopi/tajuk hutan merupakan faktor pembatas bagi kehidupan tumbuhan, karena dapat menghalangi penetrasi cahaya ke lantai hutan. Keberhasilan pohon untuk mencapai kanopi hutan tergantung karakter/penampakan anak pohon. Variasi ketersediaan cahaya dan perbedaan kemampuan antar spesies anak pohon dalam memanfaatkannya dapat mempengaruhi komposisi dan struktur vegetasi hutan. Perbedaan kemampuan antara spesies anakan pohon dalam menoleransi naungan mempengaruhi dinamika hutan. Pada kondisi cahaya rendah, perbedaan kecil dalam pertumbuhan pohon muda dapat menyebabkan perbedaan mortalitas yang besar, sehingga mempengaruhi kemelimpahan relatifnya (Pacala dkk., 1996). Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, biasanya dengan panjang 40-70 m dan lebar 10 m, tergantung densitas pohon. Ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif . Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan (Ashton dan Hall, 1992). Stratifikasi hutan hujan tropika dapat dibedakan menjadi 5 lapisan, yaitu : 1. Lapisan A (lapisan pohon-pohon yang tertinggi atau emergent), 2. lapisan B dan C (lapisan pohon-pohon yang berada dibawahnya atau yang berukuran sedang), 3. lapisan D (lapisan semak dan belukar) dan 4. lapisan E (merupakan lantai hutan). Struktur suatu masyarakat tumbuhan pada hutan hujan tropika basah dapat dilihat dari gambaran umum stratifikasi pohon-pohon perdu dan herba tanah. Struktur vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu: 1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapihan, semai dan herba penyusun vegetasi. 2. Sebaran, horisotal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu terhadap individu lain. 3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.(Kartawinata,1984). Hutan hujan tropika terkenal karena pelapisannya, ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara kontinu. Tampaknya pelapisan vertikal komunitas hutan itu mempunyai sebaran populasi hewan yang hidup dalam hutan itu. Sering terdapat suatu atau beberapa populasi yang dalam kehidupan dan pencarian makanannya (Whitmore,1975). Suatu stratum pohon dapat membentuk suatu kanopi yang kontinu atau diskontinu. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya tajuk-tajuk yang saling bersentuhan secara lateral. Istilah kanopi adakalanya sinonim dengan stratum. Kanopi berart i suatu lapisan yang s edikit banyak kontinu dari tajuk-tajuk pohon yang tingginya mendekati sama, misalnya permukaan yang tertutup. Atap dari hutan kadangkala juga disebut kanopi. Di dalam hutan hujan, permukaan ini dapat dibentuk oleh tajuk-tajuk dari stratum yang paling tinggi saja. Hutan hujan tropika terkenal karena pelapisannya. Ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara tak sinambung. Meskipun ada beberapa keragaman yang perlu diperhatikan kemudian, hutan itu secara khas menampikan tiga lapisan pohon. Lapisan pohon ini dan lapisan lainnya yang terdiri dari belukar serta tumbuhan terna diuraikan sebagai berikut : 1. Lapis paling atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 30-45 m. pepohonan yang muncuk keluar ini mencuat tinggi di atas sudur hutan, bertajuk lebar, dan ummnya terxebar sedemikan rupa sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambung. Bentuk khas tajuknya sering dipakai untuk mengenali spesies itu dalam suatu wilayah. Pepohonan yang mencuat itu sering berakar agak dangkal dan berbanir. 2. Lapis pepohonan kedua (tingkat B) di bawah yang mencuat tadi, ada kalanya disebut juga sebagai tingkat atas, terdiri dari pepohonan yang tumbuh sampai ketinggian sekitar 18-27 m. pepohonan in tumbuh lebih berdekatan dan cenderun membentuk sudur yagn bersinambung. Tajuk sering membulat atau memanjang dan tidak selebar seperti pada pohon yang mencuat. 3. Lapis pepohonan ketiga (tingkat C), yang juga dinamakan tingkat bawah, terdiri dari pepohonan yang tumbuh sampai ketinggian sekitar 8-14 m. pepohonan di sini sering mempunyai bentuk yang agak beraneka tetapi cenderung membentuk lapisan yang rapat, terutama di tempat yang lapisan keduanya tidak demikian. 4. Selain dari lapis pepohonan tersebut, terdapat lapis belukar yang terdiri dari spesies dengan ketinggian yang kebanyakan kurang dari 10 m. tampaknya terdapat dua bentuk belukar : yang mempunyai percabangan dekat tanah dan karenanya tak mempunyai sumbu utama; dan yang menyerupai pohon kecil karena mempunyai sumbu utama yang jelas, yang sering dinamakan pohon kecil dan mencakup pohon muda dari spesies pohon yang lebih besar. 5. Yang terakhir, yaitu terdapat lapis terna yang terdiri dari tumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah pepohonan yang lebih besar dari lapisan yang lebih atas, atau spesies terna (Ewusie, 1990). Menurut Halle et al. (1978), pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan tropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu: 1. Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C). 2. Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A). 3. Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati. (Onrizal, 2008). METODOLOGI Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan adalah komunitas hutan mangrove, berfungsi sebagai lokasi pengamatan. Adapun alat yang digunakan adalah: 1. Kompas, berfungsi sebagai alat penunjuk arah. 2. Meteran 20 m, berfungsi sebagai alat untuk menentukan luas areal pengamatan. 3. Phiband, berfungsi sebagai alat untuk mengukur diameter pohon. 4. Walking stick, berfungsi sebagai alat untuk menentukan tinggi pohon. 5. Tali rafia, berfungsi sebagai alat untuk menentukan batasan areal pengamatan. 6. Galah/pacak, berfungsi sebagai alat untuk mengambil sampel untuk identifikasi yang tidak dapat dijangkau dengan tangan. 7. Golok atau parang, berfungsi sebagai alat untuk membersihkan jalur rintisan dari semak belukar. 8. Kertas milimeter, berfungsi sebagai tempat menggambarkan diagram profil arsitektur pohon. 9. Alat tulis, berfungsi sebagai alat untuk menuliskan data hasil pengamatan. Prosedur Kerja 1. Ditentukan secara pruposive sampling komunitas hutan berdasarkan keterwakilan ekosistem hutan mangrove yang akan dipelajari sebagai petak contoh pengamatan profil. 2. Dibuat petak contoh berbentuk jalur dengan arah tegak lurus kontur (gradien perubahan tempat tumbuh) dengan ukuran lebar 10 m dan panjang 60 m, ukuran petak contoh dapat berubah tergantung pada kondisi hutan. 3. Dianggap lebar jalur (10 m) sebagai sumbu Y dan panjang jalur (60 m) sebagai sumbu X. 4. Diberi nomor semua tiang/pohon yang berdiameter > 5 cm yang ada di petak contoh tersebut. 5. Dicatat nama jenis pohon dan ukur posisi masing-masing pohon terhadap titik koordinat X dan Y. 6. Diukur diameter batang pohon setinggi dada, tinggi total, dan tinggi bebas cabang, serta gambar bentuk percabangan dan bentuk tajuk. 7. Diukur proyeksi (penutupan) tajuk terhadap permukaan tanah dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang terhadap pohon. 8. Digambar bentuk profil vertikal dan horizontal (penutupan tajuk) pada kertas milimeter dengan skala yang memadai. Gambar Arsitektur (profil ) Pohon Pembahasan Pembuatan diagram profil arsitektur pohon membutuhkan data-data seperti diameter, tinggi total, tinggi bebas cabang, koordinat (X,Y), serta proyeksi tajuk. Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, digambar arsitekturnya dengan skala 1:100. Ditentukan posisi X dan diameter setinggi dada di sumbu X pada setiap pohon, Kemudian tinggi bebas cabang dan tinggi total di sumbu Z. Untuk proyeksi tajuk yaitu, ditempatkan pohon sesuai koodinat X di sumbu X dan koordinat Y disumbu Y, kemudian dilakukan proyeksi tajuk ke arah depan, belakang, kiri, dan kanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ashton dan Hall (1992) yang menyatakan diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, tergantung densitas pohon. Ditentukan posisi setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi, diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan. Pohon dominan merupakan pohon yang paling tinggi di suatu populai pohon bakau. Dari hasil pengukuran tinggi pohon di Hutan mangrove bagus ,ketinggian pohon 4,9 m (3,5m≤t<5m)merupakan pohon yang dominan di populasi bakau tersebut. Sedangkan yang kodominan ketinggiannya 3 sampai 2,9m (2m≤t<3,5m). Pohon dominan merupakan pohon masa depan dan pohon kodominan merupakan pohon masa kini. Hal ini sesuai dengan pernyataan Halle et al. (1978) dalam Onrizal (2008) yang menyatakan bahwa pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan tropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu: 1. Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang, pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan C). 2. Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling dominan (lapisan A). 3. Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati. Hutan mangrove terganggu (rusak) tidak dapat dikatakan bahwa pohon tersebut merupakan pohon dominan ataupun pohon kodominan karena dalam populasinya hanya terdapat satu pohon di situ. Namun pohon tersebut dapat dikatakan pohon masa lampau, karena hutan tersebut merupakan hutan yang sudah rusak akibat ulah manusia dan yang tersisa adalah pohon tersebut dan perdu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Halle et al. (1978) dalam Onrizal (2008) yang menyatakan bahwa pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan tropika berdasarkan arsitektur, dan dimensi pohonnya adalah Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Penutupan tajuk pada hutan mangrove bagus lebih rapat karena vegetasi pohon yang terdapat di hutan tersebut sangat banyak. 2. Penutupan tajuk pada hutan mangrove terganggu sangat terbuka karena vegetasi pohon yang terdapat di hutan tersebut hanya 1 atau sangat jarang. 3. Pada hutan bagus terdapat individu dan jenis pohon masa depan dan pohon masa kini. 4. Pada hutan mangrove rusak terdapat individu dan jenis pohon masa lampau. 5. Diameter setinggi dada pada hutan mangrove adalah d≥5cm sedangkan diameter setinggi dada pada hutan alam adalah d≥20cm. DAFTAR PUSTAKA Ashton, P.S., and P. Hall. 1992. Comparisons of structure among mixed dipterocarp forests of north-western Borneo. Journal of Ecology. Baker, P.J. and J.S. Wilson. 2000. A quantitative technique for the identification of canopy stratifikasi in tropical and temperate forests. Forest Ecology and Management. Ewusie, J. Y. 1990. Ekologi Tropika. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kartawinata, K.1984.Pengantar Ekologi.Remaja Rosdakarya.Bandung. Kuswanda, W. dan A.S. Mukhtar. 2008. Kondisi Vegetasi dan Strategi Perlindungan Zona Inti di Taman Nasional Batang Gadis.Sumatera Utara. Onrizal. 2008. Petunjuk Praktikum Ekologi Hutan. Universitas Sumatera Utara. Medan. Pacala, S.W., C.D. Canham, J. Saponara, J.A. Silander, R.K. Kobe, and E.Ribbens, 1996. Forest models defined by field measurements II. Estimation, error analysis, and dynamics. Ecology Monograph. Whitmore, T.C. 1985. Tropical Rain Forests of the Far East. Oxford: Clarendon

Minggu, 04 Mei 2014

Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan : SUKSESI TUMBUHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Keteraturan ekosistem menunjukkan, ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis, melainkan dinamis. Ia selalu berubah-ubah. Kadang-kadang perubahan itu besar, kadang-kadang kecil. Perubahan itu terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan manusia (Soemarwoto, 1983).
            Suksesi merupakan proses perubahan yang berlangsung secara beruntun dari komunitas tumbuhan pelopor dengan biomassa kecil. Tetapi lahan hidup di kawasan yang gersang dan kerdil menjadi komunitas belukar dan kemudian menjadi hutan dengan biomassa lebih berat, setelah kawasan itu cukup subur untuk mendukung kehidupan yang lebih kaya raya serta anekaragam. Pohon kaya di dalam hutan jauh lebih besar dengan komunitas asalnya yang hanya terdiri atas jenis tumbuhan herba seperti lumut kerak, lumut daun, paku-pakuan, dan sebagainya (Suharno, 1999)
            Barangkali yang paling kontroversial dari kecenderungan suksesional menyinggung keanekaragaman, variasi jenis, yang dinyatakan sebagau nisbah jenis-jumlah atau nisbah luasnya daerah, cenderung meningkat selama tahap-tahap dini dari perkembangan komunitas. Perilaku komponen “kemerataan” dari keanekaragaman kurang dikenal dengan baik. Sementara peningkatan keanekaragaman jenis bersama-sama dengan penurunan dominansi oleh salah satu jenis atau kelompok kecil jenis (yakni peningkatan pemerataan atau penurunan redunansi) dapat diterima sebagai kemungkinan umum selama suksesi. Ada pula perubahan komunitas lainnya yang dapat bekerja berlawanan dengan kecenderungan ini (Odum, 1996).
1.2 Tujuan Praktikum
            Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah untuk melihat pengaruh suksesi tumbuhan rumput – rumputan disekitar kampus UNTAN.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Seorang ahli biologi menyatakan bahwa suksesi adalah perubahan yang terjadi pada suatu ekosistem yang berlangsung bertahap- tahap dalam waktu yang lama. Namun yang dianut oleh ahli- ahli ekologi sekarang adalah pandangan yang mengatakan bahwa suatu komunitas adalah merupakan suatu gabungan dari beberapa organisme. Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan, karena melalui proses- proses kehidupan yang saling berinteraksi. Lingkungan disekitarnya sangat penting karena mempengaruhi kehidupan organisme. Jika organisme tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan berakibat fatal bagi organisme itu. Misalnya, tanah penting untuk tumbuhan hidup karena mengandung mineral juga merupakan media bagi air dan sebagai tempat tumbuhnya akar. Sebaliknya tanah juga dapat dipengaruhi oleh tumbuhan, dapat mengurangi jumlah mineral dalam tanah dengan akar- akar tanaman yang menembus tanah yang hanya mengandung beberapa zat organik (Resosoedarmo, 1989).
            Para ahli biologi mencoba memberi nama pada berbagai komunitas. Nama ini harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat komunitas itu. Mungkin cara yang sederhana adalah memberi nama dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas itu. Kebanyakan orang dapat membayangkan apa yang dimaksud jika kita berbicara mengenai “hutan” atau “padang rumput”. Nama ini menunjukkan bentuk dan wujud komunitas ini dalam keseluruhannya. Sering kali di dalam suatu komunitas terdapat satu atau dua tumbuhan dalam jumlah yang banyak, sehingga tumbuhan ini merupakan wujud yang khas daripada komunitas ini. Organisme yang memberi wujud khas kepada suatu komunitas dinamakan suatu spesies dominan dalam komunitas ini (Wirakusumah, 2003).
          Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis (Desmukh, 1992).
            Menurut Irwan (1992), pemberian nama komunitas dapat berdasarkan:
  1. Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup, atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan dipterocarpaceae. Dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil, di Indonesia hutan ini banyak di Flores.
  2. Berdasarkan habitat fisik komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan dan sebagainya.
  3. Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang tertinggi terbagi rata sepanjang tahun dan disebut hutan hujan tropik.           
Di antara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya beberapa spesies atau grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif organisme dalam suatu komunitas tidak ditentukan oleh posisi taksonominya, namun oleh jumlah, ukuran, produksi dan hubungan lainnya. Tingkat kepentingan suatu spesies biasanya dinyatakan oleh indeks keunggulannya. Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat dilakukan pada setiap lokasi tertentu berdasarkan perbedaan zone atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisik lingkungannya (Michael, 1994).                                                                                 
Vegetasi yang terdapat di alam kebanyakan komunitas hutan mempunyai suatu pola yang jelas. Di dalam komunitas hutan, daun-daun, cabang-cabang dan bagian lain dari bermacam- macam pohon, semak dan lain-lain tumbuhan membentuk beberapa lapisan. Masing-masing lapisan memiliki produsen, konsumen dan makhluk pembusuk lain yang khas. Mikroklimat tiap lapisan pun berlainan. Hal ini dapat dipahami karena cahaya, angin, dan hujan yang diterima lapisan ini juga berbeda. Selain dari lapisan tumbuhan, permukaan tanah hutan juga merupakan tempat hidup. Pada permukaan tanah hutan terdapat daun-daun, ranting- ranting dan kayu yang membusuk. Zona-zona ini memiliki organisme yang khas, demikian juga organisme yang ditemukan diperbatasan. Jumlah dan banyaknya spesies sering kali lebih besar dalam suatu ekoton daripada komunitas tetangganya. Disini terdapat suatu komunitas yang terdiri dari mikroorganisme, lumut dan paku- pakuan. Juga terdapat bermacam-macam kumbang, kutu daun, belalang dan mungkin ular ( Sastrodinoto, 1980).   






BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain parang, meteran, dan cangkul.
            Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tali rafia dan kayu pancang.

3.2 Cara Kerja
            Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum suksesi adalah sebagai berikut :
3.2.1. Menetapkan lahan yang akan digarap, kemudian mencatat data awal kondisi lingkungan dan vegetasi dari lahan tersebut.
3.2.2. Membersihkan lahan garapan dengan cangkul dari rumput-rumputan dan tumbuhan yang hidup pada lahan tersebut.
3.2.3. Petak lahan berukuran 2 x 2 m2 dibagi-bagi menjadi 4 petak kecil yang berukuran 1 x 1 m2 , dengan menggunakan meteran dan dibatasi oleh tali rafia. Selanjutnya membiarkan petak pengamatan tersebut selama satu minggu.
3.2.4. Setelah satu minggu mengamati jenis tumbuhan yang tumbuh pada masing-masing petak dan mencatat mengenai jumlah dan jenis tumbuhan yang ada.
3.2.5. Pengamatan petak percobaan dilakukan setiap minggu selama 5 minggu.
3.2.6. Mencatat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan membandingkan hasil pengamatan dari setiap minggu.
3.2.7. Setelah 8 minggu, menghitung kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif dan indeks nilai penting dari kondisi vegetasi sebelum dan sesudah suksesi dengan menggunakan rumus.
3.3 Analisis Data
                                    Jumlah individu
a. Kerapatan (K) =
                                    Luas area sampel
                                                            Kerapatan jenis
b. Kerapatan Relatif (KR) =                                                               x 100 %
                                                            Kerapatan seluruh jenis
                                    Individu yang terdapat dalam plot

c. Frekuensi (F) =

                                                Luas area sampel


                                                            Frekuensi Jenis

d. Frekuensi Relatif (FR) =                                                                 x 100 %

                                                            Frekuensi seluruh jenis


e. Indeks Nilai Penting (INP) = KR + FR

4.2  Pembahasan
            Empat macam spesies pada saat sebelum sukesi, yaitu Graminae, Cyperus sp., Paspalum, dan Colocasia esculenta. Dari keempat spesies tersebut, tumbuhan Graminae paling mendominasi dengan jumlah sebanyak 80-90% seluruh jenis pada tiap plot.Setelah dilakukan sukesi dan dibiarkan selama satu minggu, ternyata tumbuhan yang pertama kali tumbuh adalah Graminae, Cyperus sp., Paspalum, dan Spesies 1. Ini menunjukkan bahwa Graminae, Cyperus sp., Paspalum, dan Spesies 1 bertindak sebagai tumbuhan perintis (pionir). Setelah itu baru kemudian tumbuh Spesies 2. Setelah 5 minggu, kita dapat mengamati bahwa telah terjadi suksesi pada lahan garapan, yang ditandai dengan terbentuknya komunitas baru.
            Komunitas baru yang terbentuk ini terdiri dari 2 macam spesies, yaitu Spesies 1 dan Spesies 2. Komunitas ini berbeda dengan komunitas awal yang terdiri dari 4 jenis spesies. Dari komunitas awal, jenis spesies yang kembali tumbuh pada komunitas baru adalah Graminae, Cyperus sp., dan Paspalum. Sedangkan Colocasia esculenta tidak tumbuh lagi. Spesies 1 dan Spesies 2 yang tumbuh pada komunitas baru merupakan jenis tumbuhan yang berasal dari komunitas awal. Ini menunjukkan bahwa suksesi yang terjadi pada lahan garapan adalah suksesi sekunder, yaitu suksesi yang terjadi jika suatu komunitas baru muncul dan berkembang pada habitat yang pernah ditumbuhi oleh komunitas lain. Selain itu, bibit atau benih Spesies 1 dan Spesies 2 yang tumbuh pada komunitas baru bukan berasal dari habitat awal lahan tersebut.
            Indeks Nilai Penting (INP) dari komunitas baru yang tumbuh akibat proses suksesi sekunder. INP disini berdasarkan grafik juga berkaitan erat dengan kerapatan relatif dan frekuensi relatif dari vegetasi Spesies 1 dan Spesies 2. Pertama kita lihat data kondisi vegetasi sebelum terjadi suksesi. Dari hasil pengamatan, kita dapat melihat bahwa tumbuhan Graminae memiliki INP yang paling tinggi dibanding tumbuhan Cyperussp., Paspalum, dan Colocasia esculenta. Berbeda pada data kondisi vegetasi setelah terjadi suksesi. Paspalum memiliki INP yang lebih tinggi dibanding dengan Graminae, yaitu sebesar 256,87 %. Sedangkan INP Graminae hanya sebesar 182,76%.
            Tumbuhan Paspalum memiliki tingkat kerapatan dan frekuensi yang relatif lebih tinggi dibanding spesies yang lain, sesudah suksesi. Tumbuhan Paspalum bersifat dominan atau mendominasi pada lahan tersebut, sehingga memiliki frekuensi jumlah individu yang relatif lebih tinggi dibanding spesies lain. Paspalum juga memiliki tingkat kerapatan populasi yang relatif tinggi dibanding spesies lain.
            Paspalum tumbuh kembali dan mendominasi pada komunitas baru. Dengan demikian, Paspalum memiliki INP yang lebih tinggi dibandingkan Spesies 1 dan Graminae, yaitu sebesar 256,87%. Sedangkan INP Spesies 1 hanya 224,01%, Graminae 182,76% dan Spesies 2 hanya 128, 36% . Hal ini menunjukkan bahwa Paspalum mendominasi pada komunitas baru. Selain itu, Paspalum juga merupakan tumbuhan perintis (pionir) yang pertama kali tumbuh pada lahan tersebut. Sehingga lama kelamaan jumlahnya semakin bertambah dari minggu ke minggu. Paspalum dan Graminae dapat tumbuh kembali karena mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sedangkan spesies lainnya yang tumbuh pada komunitas awal tidak dapat tumbuh kembali karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang baru.





BAB V
KESIMPULAN
            Dari hasil pengamatan pada praktikum ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengaruh Graminae kurang dominan pada saat keadaan setelah terjadinya suksesi. Akan tetapi jenis rumput lainnya seperti Paspalum memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap jenis vegetasi dan dominansi pada lahan di sekitar kampus UNTAN.



DAFTAR PUSTAKA
Odum, E. P., 1996, Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga, UGM Press, Yogyakarta.
Soemarwoto, O., 1983, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta.
Soeriatmadja, R. E., 1977, Ilmu Lingkungan, ITB, Bandung.
Suharno, 1999, Biologi, Erlangga, Jakarta.
Wirakusumah, S., 2003, Dasar-dasar Ekologi :Menopang Pengetahuan Ilmu-ilmu Lingkungan, UI Press, Jakarta.
Desmukh, I.1992. Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Irwan, Z. O.1992. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem,
Komunitas, Dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara.
Michael, P.1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Resosoedarmo, R. S.1989. Pengantar Ekologi. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Sastrodinoto,S.1980. Biologi Umum I. PT. Gramedia.Jakarta.

Sabtu, 03 Mei 2014

Laporan Praktikum : Pengaruh Faktor Air

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang            Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.            Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar. (Anonim, 2009)            Tanaman merupakan salah satu komponen biotik, di alam lingkungan sebagai suatu kesatuan, ekosistem sehingga dengan demikian kehidupan tanaman tentu saja tergantung dari interaksi faktor lingkungan lainnya. Alam lingkungan yang terdiri dari lingkungan biotik (hidup) dan abiotik (mati) mempunyai peranan yang sama pentingnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Lingkungan abiotik yang berupa air, temperatur, kelembaban, cahaya dan unsur hara merupakan beberapa contoh unsur abiotik yang membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adanya ketergantungan tanaman pada lingkungan biotik maupun abiotik beserta semua proses biokimia dan fisiologi tubuh tanaman menunjukkan adanya faktor pembatas dalam pengaturan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.            Kegagalan proyek penanaman jagung yang terjadi di Gorontalo pada musim tanam April s/d Juni 2002 merupakan salah satu contoh besarnya pengaruh air sebagai faktor pembatas dalam pertumbuhan tanaman jagung terutama di musim kemarau yang berkelanjutan. Akibat kekurangan air pada musim kemarau tersebut ratusan ribu hektar tanaman jagung mengalami puso/gagal panen. Namun, dari beberapa jenis varietas jagung hibrida yang ditanam tersebut tidak semuanya mengalami kegagalan totaldimana ada satu varietas yang paling tahan terhadap musim panas (keadaan kering) yaitu varietas jagung hibrida BISI-2. Meskipun hasilnya jauh menurun dibandingkan kondisi normal atau potensi hasilnya, namun varietas tersebut masih mampu menghasilkan 2 – 3 ton/ha. Mengapa demikian? Morfologi jagung BISI–2 yang memiliki perakaran dalam serta di dalamnya mengandung koloid yang mampu mengikat air, sehingga dapat mengurangi resiko kematian tanaman akibat kekurangan air . (Tjionger’s, 2009)
1.2 Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh air terhadap pertumbuhan tanaman jagung
2. Mengetahui pengaruh kadar air terhadap perkecambahan dan pertumbuhan vegetatif tanaman jagung
3. Mengetahui kadar air yang optimal untuk memberikan pertumbuhan yang maksimal pada tanaman jagung.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jagung (Zea mays L)            Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak. Kebutuhan akan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat. Hal ini didasarkan pada makin meningkatnya tingkat konsumsi perkapita per tahun dan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.Jagung merupakan bahan dasar / bahan olahan untuk minyak goreng, tepung maizena, ethanol, asam organic, makanan kecil dan industri pakan ternak. Pakan ternak untuk unggas membutuhkan jagung sebagai komponen utama sebanyak 51, 4 %. Tanaman jagung mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap tanah, baik jenis tanah lempung berpasir maupun tanah lempung dengan pH tanah 6 -8. Temperatur untuk pertumbuhan optimal jagung antara 24-30 °C. Tanaman jagung pacta masa pertumbuhan membutuhkan 45-60 cm air. Ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk buatan yang cukup untuk meningkatkan pertumbuhan akar, kerapatan tanaman serta untuk melindungi dari rumput liar dan serangan hama.(P.T Singosari, 2009)            Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus: : Zea
Spesies Zea mays L.
 Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman. Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri). Biji jagung kayaakan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda. (Wikipedia,2009)            Khasiat jagung antara lain pembangun otot dan tulang, baik untuk otak dan sistem syaraf, mencegah konstipasi, menurunkan risiko kanker dan jantung, mencegah gigi berlubang, serta minyaknya dapat menurunkan kolesterol darah.
Kandungan gizi jagung:

1. Energi 150,00kal
2. Protein 1,600g
3. Lemak 0,60g
4. Karbohidrat 11,40g
5. Kalsium 2,00mg
6. Fosfor 47,00mg
7. Serat 0,40g
8. Besi 0,30m,g
9. Vit A 30,00 RE
10. Vit B1 0.07mg
11. Vit B2 0,04mg
12. Vit C 3,00mg
13. Niacin 0,60mg.
(Laksmiarti, 2009)
            Air memiliki banyak fungsi bagi pertumbuhan tubuh tanaman. Salah satunya, yaitu berfungsi untuk melarutkan unsur-unsur hara yang tetrserap. Manfaat yang begitu besar, sehingga air sering disebut faktor pembatas dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman. (Nur Faridah, 2003)

2.2 Perkecambahan
            Pengertian perkecambahan ini tidak hanya dipakai khusus untuk biji (seed) tetapi juga dipakai untuk bagian tumbuhan lainnya. Selama proses pertumbuhan dan pemasakan biji (seed development and maturation), embryonic axis juga bertumbuh (grows). Setelah biji masak yaitu mencapai maximum dry weight yang biasanya bersamaan dengan masaknya buah, biji tersebut memasuki suatu periode waktu selama embryonic axis berhenti tumbuh. Pengaktifan kembali aktifitas pertumbuhan embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit(seedling) disebut perkecambahan.
Secara visual dan morfologis suatu biji yang berkecambah (germinate) umumnya ditandai dengan terlihatnya akar (radicle) atau daun (plumule) yang menonjol keluar dari jiwa. Sebetulnya proses perkecambahan sudah dimulai dan berlangsung sebelum kenampakan ini.
 Untuk selama beberapa periode tertentu pada umumnya biji dari kebanyakan tanaman menghendaki beberapa syarat khusus untuk dapat memulai perkecambahan. Biji-biji ini pada umumnya akan berkecambah segera pada keadaan lingkungan yang hamper bersamaan. Syarat luar utama yang dibutuhkan untuk dapat aktifnya kembali pertumbuhan embryonic axis adalah :
1. adanya air yang cukup untuk melembabkan biji (sufficient supply of water)
2. suhu yang pantas (favourable temperature)
3. cukup oksigen (sufficient supply of oxygen) kekurangan salah satu dari ketiga syarat ini umumnya biji tidak akan berkecambah
4. adanya cahaya ( Sutopo, 1988)
2.3. Peranan Air             Air memegang peranan terpenting dalam proses perkecambahan biji. Air adalah factor yang menentukan didalam kehidupan tumbuhan. Tanpa adanya air, tumbuhan tidak bisa melakukan berbagai macam proses kehidupan apapun. Kira-kira 70% atau lebih daripada berat protoplasma sel hidup terdiri dari air. Fungsi air dalam perkecambahan :
1. Air yang diserap oleh biji berguna untuk melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan endosperm. Hal ini mengakibatkan pecah atau robeknya kulit biji
2. Air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen kedalam biji. Dinding sel yang kering hamper tidak permeable untuk gas, tetapi apabila dinding sel diimbibisi oleh air, maka gas akan masuk kedalam sel secara difusi. Apabila dinding sel kulit biji dan embrio menyerap air maka supply oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga memungkinkan lebih aktifnya pernafasan. Sebaliknya juiga CO2 yang dihasilkan oleh pernapasan tersebut lebih mudah mendifusi keluar.
3. Air berguna untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan bermacam-macam fungsinya. Sebagian air didalam protoplasma sel-sel embrio dan bagian hidup lainnya pada biji, hilang sewaktu biji tersebut telah mencapai masak sempurna dan lepas dari induknya (seed are shed) Semenjak saat ini aktifitas protoplasma hamper seluruhnya berhenti sampai perkecambahan dimulai. Sel-sel hidup tidak bias aktif melaksanakan proses-proses yang normal separti pencernaan(digestion) , pernapasan (respiration), asimilasi (assimilation), dan tumbuh (growth), apabila protoplasma tidak mengandung sejumlah air yang cukup.
4. Air berguna sebagai alat transport larutan makanan dan endosperm atau cotyledon kepada titik tumbuh pada embryonic axis, didaerah mana diperlukan untuk membentuk protoplasma baru.
Faktor dalam yang mempengaruhi proses perkecambahan
A. Tingkat kemasakan benih
B. Ukuran benih
C. Dormansi
D. Penghambat perkecambahan, beberapa factor penghambat yang dikenal :
1. Larutan dengan tingkat osmotic tinggi, missal larutan mannitol, larutan NaCl.
2. Bahan-bahan yang mengganggu lintasan metabolism, umumnya menghambat respirasi seperti : sianida, dinitrofenol, azide, fluoride, hydroxylamine.
3. Herbisida
4. Coumarin
5. Auxin
6. Bahan-bahan yang terkandung dalam buah, missal : cairan yang melapisi biji tomat dan mentimun. (Anonim, 2009)
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung - Tembolok - Mirip. Diakses tanggal 30 juli 2009
Anonim. 2009. http://ptsingosari.com. Diakses tanggal 30 juli 2009
Anonim. 2009. www.tempo.co.id/medika/arsip/092002/hor-1.htm - Cached - Similar
Anonim. 2009. qlikers.wordpress.com/makalahq/ - Tembolok - Mirip
Faridah, siti Nur. 2003. Analisis Kebutuhan Air Tanaman Jagung (zea mays, l.) Pada Berbagai Umur Tanaman. Diakses tanggal 30 juli 2009
Laksmiarti, turniani Dan Herti Maryani. 1991. Tetap Sehat di Usia Lanjut Dengan Gizi Sehat. Diakses tanggal 30 juli 2009
Purbayanti E.D dan Sri Andani. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sutopo, lita. 1988. Teknologi Benih. Rajawali
Tjionger’s, Menas. 2009. Esensialitas Air bagi Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung www.tanindo.com/abdi15/hal1801.htm - Tembolok - Mirip. Diakses tanggal 30 juli 2009

Kompetisi Tumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang  Kompetisi berasal dari kata competere yang berarti mencari atau mengejar sesuatu yang secara bersamaan dibutuhkan oleh lebih dari satu pencari. Persaingan (kompetisi) pada tanaman menerangkan kejadian yang menjurus pada hambatan pertumbuhan tanaman yang timbul dari asosiasi lebih dari satu tanaman dan tumbuhan lain. Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat (Wurttemberg 1994: 226).
Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama (intraspesific competition atau sering dikenal dengan istilah monospesies), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition atau heterospesies). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda. Persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsure hara, air, sinar, udara, agen penyerbukan, agen dispersal, atau factor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya (Indriyanto 2006: 82).
Pelaksanaan praktikum ini, dilakukan dengan menghitung bobot tajuk dan akar tanaman setiap minggu pada tiap-tiap perlakuan. Perkembangan nilai biomassa dapat mengindikasikan keadaan pasokan unsur-unsur yang diperlukan tanaman dan menentukan kemampuan suatu tumbuhan untuk tumbuh dan melihat perbedaan pertumbuhan di masing-masing plot akibat dari pengaruh persaingan. Sebagai contoh Apabila penggunaan cahaya menurun akibat persaingan, tanaman akan memberikan respon dengan mengurangi ukuran baik pada seluruh tanaman maupun pada bagian-bagian tertentu (Harjadi 1999: 192).
Pembelajaran persaingan antar tanaman sejenis sangat penting untuk memahami keseimbangan populasi dalam komunitas tanaman. Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi salah satu pihak organisme atau bahakn berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan dengan mengurangi ledakan populasi (Wirakusumah 2003: 67).
pengaturan jarak tanam, populasi dan pengolahan tanah memperlihatkan bahwa perlakuan pengolahan tanah berpengaruh sangat nyata terhadap parameter pertumbuhan dan produksi tanaman. Perlakuan populasi berpengaruh nyata sampai sangat nyata. Perlakuan pemupukan dan interaksi antara ketiganya berpengaruh tidak nyata. Salah satu bentuk interaksi antara satu populasi dengan populasi lain atau antara satu individu dengan individu lain adalah bersifat persaingan (kompetisi). Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat (Anonim2012: 1).
Kerapatan tanam merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, karena penyerapanenergi matahari oleh permukaan daun yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman juga sangat dipengaruhi oleh kerapatan tanaman. Persaingan dapat terjadi diantara sesama jenis atau antar spesies yang sama (intraspesific competition), dan dapat pula terjadi diantara jenis-jenis yang berbeda (interspesific competition). Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda (Indriyanto 2006: 82).
2.1  Tujuan PraktikumPraktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetisi pada pertumbuhan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Di alam persaingan dapat terjadi antara individu-individu dalam satu jenis (intraspesifik) ataupun dari jenis yang berbeda (interspesifik). Persaingan tersebut terjadi karena individu-individu mempunyai kebutuhan yang sama terhadap faktor-faktor yang tersedia dalam jumlah yang terbatas di dalam lingkungan seperti tempat hidup, cahaya, air dan sebagainya. Persaingan yang dialkukan oleh hewan sangat berbeda dengan persaingan pada tumbuhan. Pada dasarnya persaingan pada tumbuhan tidak dilakukan secara fisik tetapi akibat dari persaingan tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas keduanya (Anonim2012: 1).Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak (Kastono 2005: 79).Organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya. Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan (Noughton 1990: 271).Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama, kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama,intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman, interplant competitionyakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya namun dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition (Kastono 2005: 79).Persaingan intraspesifik pada tumbuhan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Jenis tanaman, sifat-sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan serta fisiologis tumbuhan mempemngaruhi pertumbuhan tanaman. Misal sistem perakaran tanaman ilalang yang menyebar luas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Bentuk daun yang lebar seperti daun talas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan air. Kepadatan tumbuhan, jarak yang sempit antar suatu tanaman pada suatu lahan menyebabkan persainagn terhadap zat-zat makanan. Hal ini karena unsur hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.Penyebaran tanaman, penyebaran tanaman dapat dilakukan melalui penyebaran biji dan melalui rimpang (Wirakusumah 2003: 67).
Tanaman yag penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi dari tanaman yang menyebar daengan rimpang. Namun demikian, persaingan penyebaran tanaman tersebut sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen dan air. Faktor lainnya adalah waktu, hal lain yang mempengaruhi adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 20-30% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh persaingan. Faktor yang terakhir adalah persaingan interspesifik, adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies (Indriyanto 2006: 82).Hukum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni tempat yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari lahan tersebut, dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu lahan mikro yang terpisah (Harjadi 1999: 192).Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azas pengecualian kompetitif   atau  competitive exclusion principles. Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael 1994: 55).Ruang merupakan faktor yang penting dalam persaingan antar spesies karena ruang sebagai tempat hidup dan sumber nutrisi bagi tumbuhan. Ruang yang besar dapat menyebabkan tingginya tingkat persaingan. Faktor utama yang memengaruhi persaingan antar jenis tanaman yang sama diantaranya adalah kerapatan. Pengaruh kerapatan tanaman terhadap diameter dan tinggi tanaman yaitu semakin besar kerapatan tanaman maka semakin kecil diameter dan tinggi tanaman dan semakin kecil kerapatan tanaman maka semakin besar diameter dan tinggi tanaman yang ada. Hal ini disebabkan karena kerapatan yang besar berarti jumlah tanaman sejenis banyak tumbuh di ruang sempit, saling berkompetisi untuk mendapatkan air, dan nutrisi yang jumlahnya terbatas (Harjadi 1999: 192).Kerapatan kecil menyebabkan air dan nutrisi yang tersedia semakin besar dan kesempatan tanaman untuk menyerap air dan nutrisi semakin besar, sehingga diameter batang dan tinggi tanaman tumbuh secara maksimal. Pengaruh kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan akar dan yaitu semakin besar kerapatan tanaman, pertumbuhan akar tanaman akan semakin kecil karena faktor nutrisi (Kastono 2005: 79).

Jumat, 02 Mei 2014

Hari BERPendidikan Nasional

Katanya semua anak punya hak yang sama akan pendidikan
Tapi mengapa ada kelas anak pintar dan kelas anak biasa-biasa saja ?
Katanya pendidikan tak pandang status ekonomi
Tapi kenyataannya mengapa ada sekolah anak orang kaya dan sekolah anak biasa-biasa saja ?
Katanya sekolah itu tempat menuntut ilmu, yang secara tidak langsung pasti harus aman
Tapi yang terjadi ? pelecehan dan kekerasan mengintai tunas-tunas kecil bangsa disana
Katanya sekolah itu tempat transfer ilmu, yang secara tidak langsung pasti harus nyaman
Dan yang terjadi ? ratusan bahkan ribuan sekolah tak ubahnya arena layar tancap yang ketika hujan datang semuanya bubar
Katanya sekolah itu tempat pembekalan dan penataan moral
Nyatanya yang dididik dan yang menjalankan regulasi pendidikan kadang moralnya tak tertata
Katanya yang mau lulus sekolah harus ikut ujian standar Negara
Nyatanya pendidikan di negeri ini antara sekolah yang satu dengan yang lain jauh berbeda.  Ada yang terlalu maju (keterlaluan maju) ada pula yang terbelakang.
Katanya seluruh anak wajib sekolah dan ditanggung Negara
Nyatanya nun dijalanan, ratusan bahakan ribuan anak-anak masih menggelandang ria di bawah jembatan


Inilah potret pendidikan di negriku,, selamat hari berpendidikan


 

Minggu, 18 Agustus 2013

hanya dentingan jam

ketika hanya ada dentingan jam menuju detik, dan perlahan menghantarkanku ke ujung menit dan membawaku ke terminal jam demi jam, menemaniku dilorong sempit berjendela tunggal ,,,tak ada yang bisaku ajak untuk sekedar berbagi endapan rasa yang mulai menggumpal.....

Ketika partikel-paartikel cahaya
Bercumbu dalam celah-celah hampa
Meyentuh dalam relung bathin nan bahana
Menyatu menapis segala cela serta tawa

Seketika bekunya pagi menjelma mesra
Sesaknya hawa cemar berganti lega
kupu-kupu riang bergurau dibawah naungan bianglala
mawar mekar tersenyum mekar merona